Marah Membatalkan Puasa
Karya: Shakila Azalia Tohiri
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Perkenalkan, saya Shakila Azalia Tohiri. Saya remaja berusia 12 tahun dan sekarang duduk di kelas 5 sd. Kegemaran saya saat ini adalah menulis. Kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman di awal Ramadan tahun ini.
Happy reading!
Hari itu saya sedang menjalankan ibadah puasa hari ke-7 Ramadan. Seperti biasa, di momen Ramadan ada salah satu acara televisi yang saya suka tonton di siang hari, yaitu acara hafiz Indonesia. Ketika itu jadwal tayangnya berbarengan dengan serial kartun kesukaan adik. Adik juga ingin menonton TV. Kami berdua sama-sama ingin menonton tv tapi berbeda chanel. Adik berteriak, saya tidak boleh mengganti channel acara lain. Bahkan remote TV pun diambilnya. Padahal saya juga ingin menonton acara TV favorit saya.
Kami berebut remote TV. Saling mengejek, berteriak. Bahkan adik melemparkan bantal ke muka saya. Kami berdua bertengkar.
Saya terbawa emosi. Saya juga membalas perbuatan adik dengan melemparkan bantal . Kamar yang tadinya tertata rapi seketika jadi berantakan seperti kapal pecah. Adik menangis dengan keras. Tak lama kemudian, bunda datang melerai. Saya tersadar. Saya mengambil nafas panjang dan mengucap istigfar.
Saya mengaku salah. Saya tidak dapat menahan amarah di bulan suci Ramadan ini. Bunda mengingatkan untuk tidak lagi bertengkar dengan adik. Alangkah baiknya jika saya yang mengalah. Saya sangat menyesal. Saya jadi berpikir, bagaimana puasanya, batal atau tidak. Saya pun bertanya kepada ayah.
Kata ayah, marah itu tidak secara langsung membatalkan puasa, tetapi jika marah menyebabkan kita melakukan perbuatan tidak pantas, seperti berkata kasar atau melakukan tindakan kekerasan , maka itu dapat membatalkan puasa. Jika kita hanya merasa marah tanpa melakukan perbuatan yang tak pantas, maka puasa kita tidak batal. Bahkan, mengendalikan amarah saat berpuasa dapat menjadi bentuk ibadah dan latihan kesabaran.
Ayah kemudian menasehati, supaya menahan amarah dengan cara mengambil napas dalam-dalam,mengalihkan perhatian pada hal yang positif,membaca Al-Qur’an,dan memperbanyak zikir. Saya pun mencobanya. Saya ambil wudhu, dan membaca al-qur’an. Alhamdulillah, hati terasa lebih tenang.
Demikian sedikit cerita yang dapat saya sampaikan. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua agar lebih bersabar dan dapat menahan amarah dalam situasi apapun. Terimakasih telah membaca hingga akhir.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.