Stop Normalisasi Perundungan di Sekolah!
Oleh:
Afiqa Zahra Dirlyna Putri, Elvaretta Rosyiida Widodo. Idzni Diandra Adila Aurelia, Fathimah ‘Asma’ul ‘Ulya
Kasus perundungan akhir-akhir ini semakin banyak terjadi, hingga berakibat fatal yang dialami para korban. Kebanyakan dari korban perundungan merupakan anak yang kondisinya lemah dibandingkan teman sebayanya. Mereka tidak mempunyai kekuatn untuk melawan atau melaporkan kepada guru di sekolah. Beberapa kasus yang ada di daerah Blitar Jawa Timur terjadi di sekolah tingkat menengah.
Seperti yang dialami seorang siswa SMP Negeri di Blitar tak mau sekolah karena trauma. Ia trauma menjadi korban perundungan hingga membuatnya pingsan enam kali. Siswa juga mengaku trauma dan ketakutan karena sering mendapat ancaman verbal dari sang pelaku. Kemudian orang tuanya melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.
Korban masih berusia 12 tahun, belum setahun ia menjadi siswa di sekolah tersebut (SMPN di Kabupaten Blitar bagian Timur). sejak awal masuk siswa sudah sering dijahili oleh teman sekelasnya. Aksi perundungan lama-kelamaan semakin parah, sampai pada penganiayaan hingga menyebabkan korban pingsan.
Kejadian terjadi saat korban keluar dari ruang perpustakaan, ia tiba-tiba diserang dari belakang. Pihak sekolah menghubungi orang tua korban untuk menjemput korban, wali kelas menerangkan bahwa korban telah pingsan selama 3 jam. Sore nya ia mengaji di masjid, saat pulang dari mengaji ia merasa ketakutan, karena ia mendapat ancaman dari teman sekelasnya kembali.
Kasus perundungan lainnya juga terjadi di Blitar, Jumat (25/8/2023) Diketahui seorang siswa kelas 3 MTSN 1 Kunir, tewas setelah dibully secara fisik oleh temannya pada jam istirahat. Saat jam istirahat, pelaku diduga memanggil korban yang berjenis kelamin laki-laki, untuk menemuinya di tempat sepi. Akan tetapi si korban tidak kunjung keluar dari kelas, akhirnya si korban pun keluar dari ruang kelas.
Si pelaku rupanya tak hanya satu orang, bisa jadi dua sampai tiga orang. Ketika korban keluar dari kelas ia langsung dihajar karena tak kunjung keluar oleh pelaku yang kesal karena menunggu lama. Korban dipukuli, ditampar oleh beberapa siswa, diduga korban tewas setelah dibully.
Ini kisahku sendiri yang terjadi pada tahun 2019, saat saya masih kelas 1 SD. Saya mengalami perundungan secara fisik oleh teman sekelas saya. Pada saat itu saya bersama dengan sahabat saya pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah kami keluar dari kamar mandi, tiba-tiba kedua teman laki-laki sekelas saya mengejar kami. mereka mengatakan mengejar hanya karena ingin membatalkan wudhu saya.
Saya berlari sekuat tenaga, namun karena kurang berhati-hati dan tidak memperhatikan jalan, saya tergelincir yang mengakibatkan saya mendapat luka besar yang hampir menutupi lutut saya. kemudian saya bangun dan berjalan ke kelas sambil menangis kesakitan. Setelah sampai, saya memberi tahu kepada guru saya apa yang telah terjadi. Guru saya langsung mengobati lutut yang terluka. saat jam makan siang mereka datang menghampiri bangku saya dan mengancam saya. Kasus yang saya alami ini tidak parah, tapi jika terus terulang maka akan menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap diri saya sendiri.
Dari kasus-kasus yang terjadi tersebut dapat disimpulkan bahwa, tindakan perundungan dapat mengakibatkan luka memar, trauma, selain itu juga bisa memicu stress. Yang paling fatal, jika sampai menyebabkan hilangnya nyawa korban. Berikut ini merupakan upaya mengatasi perundungan dalam lingkungan sekolah, antara lain:
- pembentukan tim anti bullying.
- memantau media sosial siswa.
- Menanamkan aqidah untuk siswa.
Mari kita stop perundungan di sekolah!!