TANGANNYA BEGITU KUAT
Oleh: Farida Hanum
Sebelum datangnya agama Islam perempuan dipandang sangat tidak penting oleh masyarakat jahiliyah. Hidup dalam keadaan menderita dan tidak memiliki kebebasan. Bahkan ketika ada bayi yang lahir berjeniskelamin perempuan akan dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri.Hal ini dianggap akan merendahkan kedudukan sosial orang tuanya karena kemiskinan yang akan menimpa ayah dan anak.
Rasulullah SAW datang dengan membawa rahmat bagi seluruh alam dengan memerangi segala tradisi yang ada pada masa tersebut. Banyak sekali ayat Al Quran dan hadits Rasulullah SAW yang mengangkat derajat kaum perempuan. Dalam surat An Nisa ayat 1 Allah berfirman yang artinya wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dari ayat tersebut jelas sekali disebutkan bahwa Allah menciptakan anak keturuan Adam dan Hawa adalah laki-laki dan perempuan, maka janganlah membunuh anak perempuan.
Begitu pula dalam hadits yang berbunyi Barang siapa yang mempunyai tiga orang anak perempuan, dia melindungi, mencukupi, dan menyayanginya, maka wajib baginya surga. Ada yang bertanya; bagaimana kalau dua orang anak wanita wahai Rasululloh? Beliau menjawab; dua anak wanita juga termasuk.” (HR.Bukhari). Nah dengan hadits ini pula kita dianjurkan untuk memuliakan anak perempuan.
Begitu mulianya perempuan setelah itu hingga sampai ini. Bebas untuk beribadah dan berkarya. Bahkan ada hadits Rasullah yang menegaskan bahwa wanita beriman bisa masuk ke dalam surga melalui pintu mana saja. Ada 4 hal yang menyebabkan perempuan bida masuk syurga dari mana saja. Menjalankan sholat 5 waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, taat pada suaminya dan menjaga kehormatannya. MashaAllah betapa bahagianya seandainya semua perempuan mengetahui hadits ini. Tentunya akan berlomba-lomba untuk mencapai syurga dengan segala upaya yang akan dilakukan.
Pada masa penjajahan bangsa asing yang datang ke Indonesia pernah terjadi pengucilan kepada kaum perempuan. Ada sebuah tradisi patriarki dan kolonialisasi sehingga menyulitkan kaum perempuan untuk maju. Seorang pahlawan perempuan datang melawan kebodohan itu. Ibu Kartini berjuang melawan kebodohan dengan cara membaca dan menulis. Dengan bukunya yang sangat kita kenal “Habislah Gelap Terbitlah Terang”. Kartini ingin perempuan pribumi harus berpikiran maju seperti perempuan-perempuan Eropa pada masa itu. Perempuan memiliki kedudukan sama dengan laki-laki. Setelah menikah Ibu Kartini mendirikan sebuah sekolah di Rembang yang sekarang bernama Gedung Pramuka.
Dengan bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak kaum perempuan terus bergerak maju. Dunia terbuka lebar agar permpuan dapat meraih cita-cita yang diimpikan. Semua profesi dapat dengan mudah diraih asalkan mau belajar. Dengan keinginan dan kemampuan yang dimiliki seorang perempuan bisa juga menjadi seorang pemimpin. Pemimpin keluarga, daerah dan bahkan menjadi pemimpin sebuah negara. Dalam sebuah keluarga seorang ibu menjadi pemimpin bagi anak-anaknya. Dengan adanya seorang ibu yang cerdas akan mampu melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Pandai mengelola waktu, keuangan, permasalahan dengan baik.
Menurut dr. Aisyah Dahlan dalam Kajian Ilmiah Perbedaan Otak Laki-Laki dan Perempuan pada tanggal 19 Mei 2016 menyebutkan bahwa Allah ciptakan anatomi otak perempuan corpus colostrumnya 30% lebih tebal. Corpus colostrum adalah otak yang menghubungkan otak kiri dan kanan. Sehingga perempuan bisa mengerjakan pekerjaan yang berbeda dalam satu waktu.
Mengutip dari buku Wonderful Wife Menjadi Istri Disayang Suami, Pak Cahyadi Takariyawan mengatakan pada masa sekarang, di zaman di mana bayak suami istri bekerja mencari uang, khidmah istri tidak bisa dihilangkan denganalasan kara ia telah bekerja. Hal ini karena khidmah istri kepada suami merupakan bagian dari istri shalehah, yang merupakan salah satu penanda keshalihannya.Istri shalihah tidak akan berbantah-bantahan dengan suami, tidak akan membangkang kepda suami, tidak akan berlaku kasar pada suami. Setinggi apa pun posisi seorang istri di instansi tempatnya bekerja, di rumah ia adalah seorang istri yang harus berbakti dan melayani suaminya.
Banyak sekali contoh bentuk khidmah istri pada masa Rasullah saw yang bisa kita jadikan suri tauladan, misalnya kisah Fatimah bingti Rasullah kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib. Kedua tangan Fatimah sampai lecet karena aktivitas menggiling gandum. Begitu pula kisah Asma’ binti Abu Bakar yang mengurusi kuda tunggangan suaminya Zubair bi Awwam, memberi minum kuda dan mengdon tepung untuk membuat kue.
Tangan-tangan yang sangat kuat dan hebat telah Allah titipkan pada kaum perempuan, yang Maha Kuasalah yang sebenar-benar penolong dalam setiap langkahnya. Dengan lantunan doa di setiap tengah malam yang membuat tidak ada batasan langit dan bumi seorang ibu bemunajat untuk keselamatan rumah tangga dan anak-anak tercinta.